SAAT SUKARNO DIBUANG 5 TAHUN

Saya pernah membaca buku biografi beberapa tokoh terkenal. Salah satunya yaitu buku biografi Sukarno yang ditulis oleh Cindy Adams berjudul ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ (terbit pertama pada 1965).

Salah satu hal yang menarik dan membekas di ingatan saya dari buku itu adalah episode Sukarno dibuang ke pulau Ende pada tahun 1934. Pulau itu terpencil dan terasing, bagai ujung dunia, kata Sukarno. Penghubung ke dunia luar cuma 2 kapal pos yg datang sekali sebulan.

Sebagai seorang pionir dan penggerak revolusi, dia dipaksa meninggalkan rakyatnya. Dia menggambarkan dirinya bagai elang yang dipotong sayapnya. Di penjara di sebuah pulau pengasingan yang tak tentu kapan berakhirnya. Bayangkan, betapa sengsaranya batin seorang Sukarno. Bukan saja raganya yang kini dihempaskan jauh, namun spirit dirinya yang hendak dimatikan. Dimatikan secara pelan-pelan selama 5 tahun.

Di masa awal berada di ‘penjara terbuka’ itu dia merasa puncak penganiayaan karena kesepian dan ketiadaan kawan untuk berdiskusi. Orang-orang di pulau itu juga bahkan dilarang untuk berinteraksi dengannya. Salah satu pelarian Sukarno adalah duduk di bawah pohon dan menghadap ke teluk. Menatap ke lautan lepas, seorang diri dalam himpitan pikiran yang kalut dan gelisah. Betapa menderitanya. Bukan fisik Sukarno namun jiwanya yang lebih menderita.

Selama di pengasingan pikirannya berontak dan tak padam sebagaimana tujuan awal Belanda membuang Sukarno di tempat itu. Walaupun jasadnya terdampar di pulau yang gersang itu namun pikirannya terbang menjelajah. Tetap berpikir untuk menuntaskan revolusi.

Kita tahu kemudian, seusai masa pembuangan itu, pikiran dan semangat perjuangan Sukarno malah makin kuat dan makin kokoh walaupun telah melewati masa-masa yang sulit. Dia mampu mempertahankan spirit dan pikirannya meneruskan perjalanan revolusi yang belum selesai.

Andaikan saat di pengasingan Sukarno menyerah atas keadaan yang dideritanya, mungkin kita takkan mengenal Sukarno seperti yang terukir dalam sejarah.

Hari ini sejenak belajar dari seorang negarawan seperti Sukarno, bagaimana dia menjaga spirit pikirannya agar tetap berkobar, melanjutkan cita-cita yang dia perjuangkan.

“Setiap orang adalah produk dari pikirannya sendiri. Maka percayalah akan hal-hal yang besar. Percayalah akan kebesaran dan tumbuhlah dalam kebesaran”. Thingking Big.

Batam, Mei 2016

Iklan

MEREKA MENJELAJAHI ANGKASA DENGAN MODAL KEYAKINAN?

Suatu hari seorang teman memperlihatkan foto-fotonya saat berkunjung di sebuah museum antariksa, Space and Rocket Center, Huntsville, Alabama. Saat itu dia terpilih dapat beastudi untuk belajar disana dari pemerintah Amerika.

Di salah satu fotonya terdapat replika pakaian astronot berwarna putih lengkap dengan helm bulat di bagian kepala. Di foto yang lain terlihat sebuah replika alat atau apalah namanya yang mungkin dipakai ketika sudah mendarat di bulan ya? Proud with you, Bro Imran 🙂

Yang ingin saya share adalah tentang kapan dan bagaimana manusia berpikir untuk bisa melakukan penjelajahan ke luar angkasa?

Jika kita baca dalam sejarah, manusia pertama yang berhasil dijelajahkan ke luar angkasa yaitu Yuri Alekseyevich Gagarin. Dia seorang kosmonot berkebangsaan Uni Sovyet. Dia berhasil berada di orbit bumi selama 108 menit dengan titik tertinggi 327 km dari atas bumi. Kira-kira hampir dua jam ya…

Peristiwa yang terjadi pada 12 April 1961 itu kemudian dikenang sebagai titik pencapaian yang mengubah sejarah manusia. Peristiwa ini pula yang kemudian memicu negara lain, terutama Amerika, untuk melakukan upaya misi yang lebih ‘gila’ lagi, ingin mendarat ke bulan. He… ga mau kalah ya.

 

Berpikir untuk menjelajah ke angkasa mungkin sebuah ide yang tidak masuk akal pada awalnya. Namun ada orang yang kemudian melakukan segala macam upaya untuk mencoba ‘melawan gravitasi’ dan ‘mengakali hukum alam’. Kita kemudian mengenal Wright Brother, dua orang bersaudara, yang mencoba menciptakan alat untuk terbang dan merintis ide pembuatan pesawat terbang.

Demikian juga penemuan roket yang menjadi ide perintisan diciptakannya pesawat ulang alik, pesawat untuk menjelajah ke luar angkasa. Adalah Robert Goddard yang menyempurnakan ide roket tersebut.

Penemuan dan usaha ke luar angkasa, penciptaan pesawat, roket, pesawat ulang alik dan sebagainya, menurut saya adalah hasil dari rangkaian proses yang panjang dari ‘perang keyakinan’ para penciptanya.

Mereka kemungkinan besar melewati perjuangan ‘perang keyakinan’ dengan diri mereka sendiri atau dengan team-nya, setelah segala percobaan-percobaan mereka yang gagal. Tapi Robert Goddard si Rocket Man, yakin bisa melontarkan material ke udara. Wringht Brother punya keyakinan manusia bisa terbang seperti burung. Yuri Gagarin dkk yakin bahwa ruang angkasa bisa dijelajahi.

Tanpa keyakinan yang kuat dan tidak tergoyahkan bahwa semua itu bisa dilakukan, tentu kita yakin mereka tidak akan mempunyai minat dan antusiasme untuk terus menyelesaikan proyek mereka. Dan hari ini kita melihat hasil ‘pertarungan keyakinan’ itu. Pesawat komersial yang setiap jam membawa jutaan manusia melintasi udara. Roket yang bahkan belakangan ini dimanfaatkan untuk perang. Proyek luar angkasa yang semakin mencengangkan.

Semua pencapaian mereka itu melewati masa-masa kritis dalam melawan keyakinan akan keberhasilan. “Kepercayaan (keyakinan) akan keberhasilan ada dibalik semua bisnis, perusahaan yang berhasil dan organisasi politik yang berhasil. Kepercayaan akan keberhasilan adalah satu unsur dasar yang sepenuhnya esensial pada diri orang-orang berhasil”. Saya kutip dari Thing Big: hal.7

Nah… hari ini kita belajar dari Yuri Gagarin dkk, Wright Brother, Robert Goddard, tentang kekuatan keyakinan.

Nb: Dalam keyakinan terhadap agama yang kita anut (iman), demikian juga pengaruhnya kali ya. Klo pikiran lagi stres, jadi ga ingat surga-neraka. Ga antusias menyelesaikan proyek akhirat. Begitu ga ya?

Marhaban

 

 

MEMINDAHKAN GUNUNG

dashrath-manjhi

Anda pernah mendengar kisah seorang lelaki India yang memindahkan gunung? Saya yakin Anda sudah pernah. Kalau belum, nanti kita simak ringkasannya.

Saat pertama kali membaca kisah ini, saya sungguh tidak percaya. Namun setelah itu barulah benar-benar yakin, bahwa kisah manusia luar biasa ini adalah kisah nyata. Dialah Dashrath Manjhi, si Lelaki Gunung (Mountain Man).

Dashrath Manjhi seorang buruh miskin di Desa Gehlaur, sebuah tempat di negara bagian Bihar, India. Pada tahun 1959, istri Manjhi bernama Falguna Devi meninggal setelah melewati perjuangan melawan sakit yang dideritanya. Istrinya tak sempat tertolong oleh dokter karena jarak tempuh ke rumah sakit cukup jauh. Dokter terdekat berjarak 70km dari desanya karena harus berputar mengitari sebuah gunung.

Dari peristiwa itu, Manjhi kemudian memutuskan memahat sebuah gunung sepanjang 110m. Gunung itu mengisolasi desanya sehingga harus berputar untuk mencapai distrik terdekat.

Pada awal memulai memahat itu, Manjhi dianggap orang-orang desa sudah mulai gila karena aktivitasya itu. “Tapi itu yang menguatkan keputusan saya”, kata Manjhi dikemudian hari. Dia tidak berhenti menggali dan memecahkan batu gunung tersebut.

Dia menyelesaikan pekerjaan itu selama 22 tahun, dari tahun 1960 sampai 1982. Dengan usahanya itu jarak antara desa terdekat yang awalnya 55 km menjadi 15 km.

Tentu kita saat ini tak perlu melakukan apa yang dicontohkan oleh Manjhi, memindahkan gunung. Namun ada satu poin yang boleh kita ambil pelajaran. Manjhi menurut saya memiliki keyakinan yang kuat, atau boleh bilang keyakianan yang gendeng. Keyakinan dalam dirinya bahwa dia bisa melakukannya. Hingga dia tidak menghiraukan ejekan dan hinaan yang diberikan padanya. Mungkin jika kita yang diperlakukan seperti itu tak akan tahan. Pasti Anda setuju dengan saya, kan?

Di buku Think Big, dikatakan:
“Cara terbaik memperoleh keberhasilan adalah dengan percaya bahwa Anda dapat berhasil.”

“Kepercayaan atau sikap “Saya-positif-saya-dapat,” membangkitkan kekuatan, keterampilan dan energi yang diperlukan untuk berhasil. Jika Anda percaya “Saya-dapat-melakukannya” dan benar-benar percaya, maka “bagaimana melakukannya” pun berkembang secara otomatis”.

Saya yakin Anda sepakat dengan saya bahwa Manjhi memiliki itu. Keyakinan memindahkan gunung. Keyakinan yang kuat bahwa Dia akan berhasil.

Hari ini kita belajar dari seorang Dashrath Manjhi.

‘GURU ROTAN’ YG SAYA KAGUMI

image

Suatu hari saat saya masih SD, saya lagi bete untuk hadir di ruang tamu sore itu. Seperti biasa, usai magrib rumah kami mulai ramai anak-anak sebaya saya untuk datang mengaji. Mungkin ada sekitar 20an anak-anak.

Kami belajar mengaji dengan metode yg ada saat itu. Mungkin klo sekarang ada metode Iqro. Yang ngajar mengaji adalah Bapak, orang tua saya sendiri. Nah….. bayangkan. Yang ngajar Bapak, tapi anaknya ga hadir.

Bapak, biasa kami panggil begitu, adalah seorang guru dan kepala sekolah. Belakangan ditugaskan di Dinas Pendidikan Kecamatan saat itu. Separuh hidupnya kayaknya sudah didermakan untuk menjadi seorang pendidik. Sudah mendarah daging saya rasa.

Kami mengaji dari usai magrib hingga isya. Riuh rendah suara anak-anak mengaji hingga kadang berlomba siapa yang paling nyaring. Beberapa anak-anak yg belum cukup umur juga nimbrung penuh penasaran dari depan pintu. Ada juga ibu-ibu yang nungguin anaknya sambil sesekali melirik dari jendela.

Bapak dilingkari 20an anak itu. Ibu juga yg kami panggil Mama’, sering juga ikut mengajar anak-anak. Nah… saya, anaknya sendiri, malah tak hadir diantara bocah-bocah itu. “Apa kata dunia”, pikirku saat ini klo ingat kelakuan sy saat itu. Anak sendiri tidak ikut mengaji.

Nah cerita selanjutnya berjudul “Rotan”. Tapi ceritanya disensor, Wk…wk..wk.. Kok disensor. Iya, masalahnya klo jaman sekarang, cerita tentang rotan sudah beda ‘head line’-nya. Pasti tentang kekerasan seorang guru, kesadisan seorang pendidik. Ujung-ujungnya adalah Komnas Perlindungan Anak.

Klo masalah itu sy ga paham-lah. Klo dulu ya….’rotan’ biasa-biasa saja. Mungkin beda zaman kali ya. Tapi kami 8 orang bersaudara alhamdulillah baik-baik saja dgn cara didik Bapak/Mama’ spt itu.

Tapi soal ‘rotan’ itu sih utk yg bandel saja, kayak saya. Itupun sekali itu saja krn habis kejadian itu saya dah tobat. Sakitnya ga seberapa, harga diri orang tua yg dipertaruhkan, Bro. Masak orang tua ngajar ngaji, tapi anaknya nanti jadi berandalan? Cie… Sok bijak ya.

Setela episode ‘rotan’ itu, sy ga mau bolos lagi. Dan alhamdulillah di sekolah juga ga pernah bolos. Ada guru yg pake rotan juga maslahnya. Wk..wk..😊

Terakhir…. (agak serius nih…), Bapak dan guru-guru di sekolah bagi saya adalah orang yang saya kagumi. Karena merekalah kita bisa membaca. Bukan sekedar membaca buku. Tapi membaca tanda-tanda kehidupan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016

Ps: Apa yg dulu kita pikir ‘jahat’ mungkin suatu saat baru kita merasakan manfaatnya.

CARA BUAT PASPOR (Passport) di IMIGRASI BATAM

image

Mau sharing ya, teman2 pengalaman ngurus Paspor di Kantor Imigrasi Batam.

Sekitar dua minggu lalu sy ngurus paspor di kantor Imigrasi Batam. Pagi jam 07.00 sy sudah di sana. Ternyata sudah ada kira-kira 30an orang. Padahal masih pagi dan gerimis lagi. Setelah itu masih ada lagi yg datang belakangan.

Kantor Imigrasi belum buka, namun ada absen (buku panjang) yg diminta utk di isi. Ada dua absensi, masing2 utk yg sudah mendaftar online dan yg tidak atau manual. Absen itu untuk antri dipanggil masuk duluan ke dalam nantinya.

Jam 07.30 kantor buka. Orang2 mulai mendekat ke pintu masuk. Petugas Imigrasi memanggil satu persatu sesuai absen tadi. Jadi itu maksud absen tadi ya… supaya tertib masuk satu2 kali ya. He..

Setelah di dalam, berbaris lagi di depan pengambilan formulir. Jalur yg sudah daftar online dibedakan dgn jalur manual. Setiap org akan dicek kelengkapan berkasnya sebelum diberikan map kuning yg berisi formulir isian. Lalu diberikan nomor antrian untuk sesi berikutnya. Sy dpt nomor 52. Wow….lumayan lah, dr pada 152? He….

Map tadi terdiri dr dua lembar, utk data diri dan pernyataan belum/sudah punya paspor. Formulir diisi dan dibubuhi matetai 6rb di surat pernyataan. Lalu menunggu antrian utk sesi verifikasi data, wawancara dan pengambilan foto dan sidik jari. Tik…tok…tik…tok… (suara jam) He…

Biar ga bete, ngobrol2 deh sama org seblah saya…..habis itu main hp…habis itu…ke toilet… dll biar ga bosan. He…

Dan….. setelah lama menanti alis bosen, dari pengeras suara dan dari layar monitor nomor sy dipanggil sesuai nomor antrian. Setelah dipanggil, masuk ruangan. Di situ ada 5 konter yg melayani 5 org sekaligus. Jadi ada 10 konter dgn yg online.

Setelah sesi di ruangan itu kita diberikan kertas, semacam kwitansi lah gitu, untuk proses pembayaran. Bayarnya di Bank BNI mana saja. Kata petugasnya, klo bayar hari itu juga, 4 hari (kerja) lagi selesai. Jadi klo bayar hari rabu, bisa datang ambil hari senin. Kwitansi dr BNI jg samle ilang. Itu bukti utk pengambilan paspor nantinya. Ok, begitu prosesnya.

Simpel ternyata.

Oh iya, loket pengambilan formulir hanya sampe jam 10. Jadi klo dtg diatas itu, skalian besok saja. He…. ga dilayani lagi.

Nah…..tapi karena banyak orang maka harus sabar antri dan harus tahan bete skitar 4-5 jam gitu 😊. Klo datang telat alias dapat antrinya belakangan, siap2 sampe sore kayaknya. Hari itu kayaknya ada sktr 150an org deh… Heran juga. Kayaknya setiap hari sekitar2 itu lah.

Tapi klo teman2 ga mau repot ya…. pake gitu deh… tau kan kamsudnya. He… he… Di situ banyak yg ‘bersedia membantu’.😊

Pas hari yg ditentukan, senin misalnya, nanti antri lagi utk pengambilan paspor. Jgn lupa bw kwitansi bukti pembayaran yg dr BNI.

Di kwitansi itu ada nomor/angka. Nah… di loket pengambilan ada layar touch screen. Masukkan 7 angka yg terakhir. Enter. Keluar nomor antrian yg ada nama kita. Lalu silahkan antri utk pengambilan. Akan dipanggil sesuai nama, bukan nomor antri, walaupun akan disesuaikan dg nomor antrinya.

Ok. Itu saja sharing pengalaman sy ya. Klo ada yg keliru mohon maaf. 😊

Silahkan shering jika ini dirasa bermanfaat utk yg lain.

Filosofi Coto

image

Beberapa bulan yg lalu saya menonton film Filosofi kopi. Bercerita tentang dua orang rekan yang berjibaku membangun idealisme cafe ‘Filosofi Kopi’ mereka agar tetap tetap pada jalur aroma si maestro kopi.

Nah… klo Coto apa pula ya filosofinya? Sebagai orang rantau di Batam, coto adalah sebuah ungkapan kerinduan. Coto adalah kenangan indah tentang Makassar/ Sulsel. Coto adalah gairah dalam peluh. Coto adalah persahabatan.

Kerinduan. Makin jauh kita dengan tanah kelahiran maka makin rindu kita untuk pulang. Makin lama kita tak pulang kampung maka makin kuat tarikan kenangannya. Nah… untuk melepas rindu yg tak terobati maka coto lah pelampiasannya. He… efeknya adalah, “tambah semangkok lagi mas, eh… daeng”. Maklum, ini di kampung orang.

Kenangan. Coto adalah makanan yg melekat dgn kota Makassar atau Sulsel pada umumnya. Jika jalan2 ke Makassar, belum lengkap sebelum merasakan makanan ini. Ada banyak restoran atau rumah makan yg khusus menjual Coto. Beberapa yg cukup terkenal seperti Coto Ranggong, Coto Gagak, Coto Pettarani, Coto Dewi, Coto Karaeng, Coto Latimojong, Coto Paraikatte, Coto Daeng Bagadang dll.

Gairah. Bahan utama dari coto adalah daging. Klo bumbu-bumbunya maksimal, bahannya bisa sampe sekitar 40 macam. Wuih… Kalah sama menu khas ya cina cap cay. Cap cay cuma 9. He… Tapi katanya asal muasal coto ada juga inspirasi dari menu cina. Entahlah..

Persabatan. Klo ini, singkat saja. Coto Makassar yang paling nikmat, paling enak, paling spesial dan ga ada duanya adalah coto yg dinikmati di tanggal tua, kiriman belum datang atau dompet lagi tipis, tugas kuliah menumpuk dan ada teman yang ngajak keluar malam. Tujuannya sangat pasti dan lokasinya spesifik. Rumah Makan Coto Makassar. Ditraktir. Inilah persahabatan….Wk…wk…

Nah yg lagi di Batam, dan ingin melampiaskan kerinduan Tanah Daeng alias Makassar ada di Ruko dekat Simpang Yamaha, Sagulung. Rasanya? Mmmm….. tak usah ditanya. Istri saya yg bukan orang Makassar saja mampir lagi semalam, beli dua mangkuk, komplit dengan ketupat dan burasa’ nya. Harganya? Klo sudah ‘rindu’ tak akan nanya harga lagi. He…

Ps: Filosofi coto belum ada filemnya, siapa tau ada produser yg baca, coba dulu cotonya, biar lebih meresapi maknanya. 😊
Salam dari rantau.

Yuk…menjelajah negeri orang

image

Pagi ini saya membaca sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang ulama yang jadi referensi umat Islam hingga saat ini. Kalimat yang inspiratif menurut saya.

“Berkelanalah ke negeri asing untuk mencari keuntungan, karena dalam setiap pengembaraan akan diraih lima keuntungan. Menghilangkan kesedihan, memperoleh keuntungan materi, menambah pengetahuan, meingkatkan peradaban, dan menambah pergaulan.” (Imam Syafii)

Paspor….paspor, mana paspor. 😊